Beranda > Umum > Petani Kopi Terancam Tak Panen

Petani Kopi Terancam Tak Panen

23 Januari 2011

Harga Anjlok, Tanaman Kopi Tak Berbuah

DISAAT pemerintah kabupaten (Pemkab) Empat Lawang sedang gencar-gencarnya mempromosikan produk unggulan masyarakat bumi Saling Keruani Sangi Kerawati berupa Kawo EMASS, para petani kopi malah merana.

Kebun kopi mereka (petani,red) banyak tak berbuah seperti tahun-tahun sebelumnya. Dapat dipastikan hasil panen kopi warga yang akan berlangsung pada bulan Maret dan April mendatang bakal menurun drastis. Hampir sebagian besar tanaman kopi warga, tidak berbuah lebat. Bahkan banyak diantara pohon kopi terlihat sama sekali tidak berbuah.

Para petani yang sempat dibincangi Empat Lawang Express mengaku kalau tahun ini seluruh tanaman kopi warga mengalami nasib yang sama. Penyebabnya, menurut mereka tiada lain karena keadaan alam yang kurang mendukung. Kemudian, pada Oktober hingga Desember 2010 lalu, tanaman kopi warga sempat diguyur hujan es dari puncak gunung Dempo Pagar Alam.

Nah, kedua faktor inilah menjadi penyebab utama yang menyebabkan tanaman kopi tak berbuah. ‘’Yang pasti pada bulan November dan Desember yang semestinya musim hujan, tetapi sebaliknya hujan hanya datang sekali-sekali saja. Akibatnya terjadilah kekeringan pada sebagian besar lahan kebun kopi,’’ ungkap Agustik (54), petani kopi warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Ulu Musi.

Menurut Agustik, disamping kekeringan melanda tanaman kopi warga, hujan es dari gunung Dempo juga menjadi penyebab tidak berbuahnya tanaman kopi. ‘’Kalau tidak salah sempat terjadi tiga kali hujan es mengguyur kebun kopi, ini juga menjadi penyebab tidak berbuahnya kopi,’’ jelasnya.

Hujan es, katanya, tidak pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. ‘’Entah kenapa tahun 2010 lalu terjadi hujan es. Mungkin karena musim panas yang terlalu berkepanjangan sehingga terjadilah hujan es,’’ ujarnya.

Melihat kondisi tanaman kopi yang tidak berbuah lebat, Agustik dan petani lainnya memastikan hasil panen mereka pada Maret dan April mendatang jauh menurun bila disbanding dengan tahun-tahun sebelumnya. ‘’Karena bisa dilihat hampir seluruh pohon kopi tidak berbuah lebat dan banyak yang sama sekali tidak ada buah,’’ sesalnya sambil memperlihatkan dahan kopi yang tidak berbuah.

Yang lebih menyedihkan lagi, menurut Agustik, harga kopi anjlok pada kisaran harga Rp…. Padahal dalam dua bulan terakhir petani masih bisa memanen buah kopi selang (sisa-sisa panen terdahulu,red). ‘’Kalau harga kopi Cuma Rp…. Bagaimana petani mau membeli beras untuk makan, sedangkan hasil panen selang ini jauh lebih sedikit bila dibanding hasil panen agung,’’ keluhnya.

Sebagai petani yang hanya mengandalkan penghasilan dari berkebun kopi, Agustik berharap hendaknya pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap keadaan harga jual yang anjlok tersebut. Karena bila harga tetap tidak mengalami kenaikan dikhawatirkan paceklik berkepanjangan akan melanda petani kopi.

Hal senada juga diungkapkan Benu (55), petani kopi warga Desa Nanjungan, Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker). Tidak berbuahnya tanaman kopi memang disebabkan kondisi alam yang tidak mendukung. ‘’Kalau petani umumnya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pemupukan dan membabat rumput hingga tanaman kopi bersih dari rerumputan, tetapi karena kondisi alam yang kurang mendukung berakibat tidak berbuahnya tanaman kopi,’’ ungkapnya.

Menurunnya buah kopi, menurut Benu, membuat sebagian petani yang memiliki lahan persawahan terpaksa meninggalkan untuk sementara kebun kopi mereka dan bercocok tanam di sawah. ‘’Karena bila cuma berharap dari kopi sudah pasti akan kehilangan penghasilan, karenanya harus beralih bercocok tanam,’’ katanya.

Tidak berbuahnya kopi ini juga terjadi di Kecamatan Muara Pinang, Lintang Kanan dan Talang Padang. Sebagian petani sudah mulai terlihat lesu darah mengetahui tanaman kopi mereka tidak berbuah lebat seperti tahun lalu. Ada diantaranya mulai beralih pekerjaan dengan mencari upahan. ‘’Biasanya sekarang masih musim selang tapi kopi tidak berbuah, mana harga jualnya murah. Mau makan apa kami kalau harus bergantung pada kopi saja, karena itu terpaksa harus mencari upahan buat biaya makan keluarga,’’ ungkap Suwito, petani Lintang Kanan.

 

Paceklik

Dampak dari kurang lebatnya buah kopi hingga bakal berdampak pada menurunnya hasil panen, saat ini masyarakat di bumi Saling Keruani Sangi Kerawati mulai dilanda musim peceklik. Sebagian petani sudah ada yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, sejak dua bulan terakhir aksi pencurian dan perampokan semakin merajalela.

Camat Lintang Kanan Nawawi saat dibincangi Empat Lawang Express beberapa waktu lalu mengakui kalau daerah yang dipimpinnya kini sudah mulai rawan kasus pencurian dan perampokan. ‘’Sejak dua bulan ini pencurian dan perampokan sudah mulai merajalela. Hampir setiap hari pasti ada kasus pencurian maupun perampokan,’’ ujarnya.

Menurut Nawawi, aksi pencurian maupun perampokan yang kian marak terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu dampak dari sulitnya masyarakat untuk mendapatkan biaya hidup sehari-hari. ‘’Bagaimana tidak sulit, kopi yang menjadi andalan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak berbuah normal seperti tahun lalu,’’ katanya.

Di kecamatan yang dipimpinnya, menurut Nawawi, hampir sebagian besar petani kopi terancam tidak bisa panen memuaskan. Kalaupun panen, katanya, jauh lebih menurun dari tahun sebelumnya. ‘’Tanaman kopi memang tidak berbuah, kalaupun berbuah hanya sedikit,’’ jelasnya.

Lain lagi dengan petani kopi di Kecamatan Muara Pinang. ‘’Petani kopi di daerah kita masih ada usaha alternatif dengan bercocok tanam, walau kopi tidak berbuah namun mereka masih ada sawah untuk bercocok tanam,’’ ungkap Camat Muara Pinang Alhumaidy.

Menurut Alhumaidy, musim paceklik kini sudah mulai dirasakan warga. Namun demikian hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya warga kelaparan. ‘’Kalau paceklik sudah mulai dirasakan warga, tetapi mudah-mudahan tidak terjadi adanya warga kelaparan,’’ jelasnya.(sf)

Penulis: Syamsul Fikri/4LE (081373316333-085273231111)

About these ads
Kategori:Umum
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: