Beranda > MUSI BANYUASIN > Patok Perbatasan Sumsel-Jambi Bergeser

Patok Perbatasan Sumsel-Jambi Bergeser

14 November 2011

KASUS tapal batas wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dengan Provinsi Jambi kian menghangat. Banyak patok yang dibangun Pemerintah Provinsi Sumsel di Kabupaten Muba kini hilang entah ke mana. Bahkan, ada patok yang sudah bergeser hingga ratusan meter dari titik koordinat awal. Misalkan saja yang terjadi di Dusun VII Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, di mana patok bergeser hingga 700 meter. Dugaan pencaplokan wilayah itu kian membingungkan warga setempat.

Warga pun melayangkan protes terkait beroperasinya perusahaan PT Bahari Gembira Ria dari Jambi yang beroperasi di Kabupaten Musi Banyuasin. Kepala Desa Muara Medak Ujang M Amin mengatakan, pergeseran patok wilayah sudah menjauh dari titik awal sebelumnya. Namun, dia tidak tahu persis kapan patok wilayah tersebut bergeser. Dia menduga bergesernya patok itu ada unsur kesengajaan untuk penguasaan lahan oleh pihak tertentu. “Paling tidak, patok bergeser hingga 700 meter. Sudah banyak tanaman sawit ditanam di daerah itu,” beber Ujang.

Kasus tapal batas ini kian menyeruak, meskipun belum ada solusi konkret. Menurut Ujang, bergesernya patok sudah diketahuinya sejak awal tahun.Peristiwa itu juga sudah dilaporkan ke Pemkab Muba dan Pemprov Sumsel. Bahkan, sudah ada desa pemekaran dari Kecamatan Muaro Jambi yang posisinya berada dalam wilayah Desa Muara Medak, Muba.

“Kalau tidak cepat dicari solusinya dan kejelasan, batas wilayah ini bisa memicu aksi massa dan berpotensi ricuh,” kata Ujang. Yang lebih parah, Kabupaten Muba terancam kehilangan puluhan hektare lahan karena diserobot daerah lain melalui sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah perbatasan.

Meskipun wilayah operasi perusahaan masuk Kabupaten Muba, diduga perusahaan tersebut mengurus perizinan ke kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Jambi, seperti PT Gudang Garam,PT Sekayu, PT Bahari Gembira Ria. “Kondisi ini kian ironis karena perusahaan akan terus menjarah lahan di Muba tanpa memberikan kontribusi yang jelas untuk daerah. Bisa jadi pajak dan retribusi balik ke Jambi semua,” ujar Ujang.

Ujang berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah,baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Jika dibiarkan berlarut-larut, akan berdampak kurang baik dan warga akan dibuat bingung terkait masalah administratif. Kabag Tapal Batas Setda Muba Soefyan menegaskan, masalah ini menjadi perhatian serius pemkab bersama pemprov. Pihaknya bahkan sudah menurunkan tim investigasi ke lapangan.

Namun, pada prinsipnya, meski tugu perbatasan berpindah tempat, titik koordinat batas tidak akan berubah. “Kita melihat banyak tanam tumbuh, seperti ada perusahaan yang bercocok tanam di wilayah Muba,” imbuhnya. Pemkab Muba juga sudah mengingatkan masalah ini dan melaporkannya ke tingkat provinsi. Informasinya,masih dilakukan pembahasan karena melibatkan kedua provinsi, yakni Jambi dan Sumsel.

Sementara itu, Ketua Komisi I DRPD Muba Anwar Hasan menegaskan, persoalan tapal batas sudah menjadi agenda Dewan untuk segera diselesaikan. Namun, pihaknya harus berkoordinasi dengan provinsi. Dewan berencana memanggil instansi terkait untuk menjelaskan sejauh mana perkembangan tapal batas sudah jauh bergeser. Terlebih, sudah ada perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Penulis: Syamsul Fikri (085273231111)

Kategori:MUSI BANYUASIN
%d blogger menyukai ini: