Beranda > OGAN KOMERING ILIR (OKI) > Midang, Adat Warisan Masyarakat OKI

Midang, Adat Warisan Masyarakat OKI

15 Januari 2012

SELAIN memiliki banyak tempat wisata,Kabupaten OKI juga memiliki beragam wisata budaya, salah satunya midang. Midang merupakan kegiatan arak-arakan atau lebih mirip karnaval.

Saat midang berlangsung, para muda-mudi berkeliling kampung dengan mengenakan 14 macam pakaian adat OKI. Kegiatan midang ini bisa dijumpai saat Hari Raya Idul fitri dan sudah menjadi agenda tahunan Disbudbar OKI. Kepala Seksi Atraksi Disbudpar OKI Yusrizal mengungkapkan, secara umum ada dua jenis midang, yakni midang pernikahan dan midang morge siwe.

”Midang pernikahan hanya ditemui saat pernikahan, diikuti kedua mempelai dan keluarganya. Sementara, midang morge siwe digelar saat hari ke 3-4 Idul fitri (Lebaran), rombongan midang diikuti pasangan muda-mudi masyarakat Kayuagung secara umum,” jelasnya.

Menurut Yusrizal, kegiatan midang sudah turun-temurun digelar warga dari sembilan marga (siwe morge) yang ada di Kayuagung. Awalnya kegiatan ini hanya berlangsung saat perkawinan saja. Namun, karena saat perkawinan digelar masyarakat, sangat kecil kemungkinan untuk bisa menyelenggarakan upacara sebesar itu, untuk melestarikan tradisi ini digelarkan midang morge siwe.

“Terakhir midang pernikahan digelar saat Bupati OKI menikahkan anaknya Muchendi Mahzareki dengan Nyayu Ike Meilina tahun lalu,” ungkapnya.

Ritual midang sendiri menggambarkan perjalanan sepasang anak manusia hingga menjadi suami istri. Dimulai dari perkenalan antara bujang dan gadis, lalu ada acara melamar atau bahkan kawin lari dan diakhiri dengan perkawinan yang diwarnai arakarakan sepasang pengantin keliling kota untuk memberi tahu warga bahwa sepasang remaja itu kini sudah berubah status.

Pada ritual itu, setiap marga diwakili satu pasang pengantin inti yang berpakaian lengkap pengantin khas Kayuagung diiringi puluhan bahkan ratusan pengantin remaja sebagai pengiring. Pada zaman dahulu, dalam arak-arakan itu terdapat bong (tempat mandi dari kayu yang mengapung) yang biasanya ditempatkan di sungai dan juli (gerobak yang dihiasi seperti perahu atau kapal) untuk mengangkut pengantin inti. Namun kini, kedua benda itu tidak lagi digunakan. Arak-arakan cukup berjalan kaki.

“Saat midang berlangsung, masyarakat Kayuagung yang berada di perantauan juga pulang untuk menikmatinya. Kedepan kita berusaha agar warga dari daerah lain juga bisa datang saat kegiatan ini berlangsung,” tukasnya.

Yusrizal mengklaim, midang sudah menjadi agenda pariwisata nasional. Sebab atraksi pariwisata ini sudah terdaftar di Kementerian Pariwisata pernah ditampilkan di istana negara pada tahun 2007. “Bukan tidak mungkin midang ini menjadi salah satu warisan nasional bahkan dunia atau world heritage ke depan” pungkasnya.(*)

Penulis : Syamsul Fikri (085279516664)

Dikutif dari Seputar Indonesia

%d blogger menyukai ini: